Minggu, 13 Desember 2009

Endokarditis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Endokarditis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat.
Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.
Etiologi Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah streptokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.
Faktor-faktor predisposisi dan faktor pencetus. Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.


1.2 TUJUAN
A. Tujuan Umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah keperawatan Kardiovaskuler II mengenai Endokarditis Infeksi.

B. Tujuan Khusus
- Untukmengetahui definisi endokarditis.
- Mengetahui etiologi endokarditis.
- Mengetahui patofisiologi endokarditis
- Mengetahui faktor pencetus endokarditis.
- Mengetahui gejala endokarditis.
- Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien endokarditis.
1.3 RUMUSAN MASALAH
- Apa itu endokarditis?
- bagaimana etiologi endokarditis?
- Bagaimana patofisiologi endokarditis?
- Apa faktor pencetus endokarditis?
- Bagaimana gejala endokarditis?
- Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien endokarditis?




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.
Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena gejalanya tidak khas.
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
Biasanya sering terjadi pada lansia mungkin akibat menerunnya respon imunologis terhadap infeksi, perubahan metabolisme akibat penuaan, dan meningkatnya prosedur diagnostik invasif,khususnya pada penyakit genitourinaria.
Efek destruksi lokal akibat infeksi intrakardiak, koloni kuman pada katub jantung dan jaringan sekitar dapat mengakibatkan kerusakan dan kebocoran katub, terbentuknya abses atau perluasan vegetasi ke perivalvular.
Adanya vegetan yang terlepas, dapat mengakibatkan terjadinya tromboemboli, mulai dari tromboli paru (vegetasi katub trikuspid) atau sampai ke otak (vegetasi sisi kiri), yang dapat mengakibatkan infack atau infeksi (emboli septik).
Vegetasi akan melepaskan bakteri secara terus menerus ke dalam sirkulasi yang akan menimbulkan bakterimia persisten yang mengakibatkan gejala konstitusional seperti demam, malaise, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, dll.
Bakterimia yang terjadi akan merangsang sistem imun seluler dan humoral pejamu, sehingga terbentuk kompleks imun dalam sirkulasi yang muncul dalam manifestasi klinis Endokarditis Infektif.

2.2 Etiologi

Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah stertokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.

2.3 Patofisiologi
Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub.
Pembentukan trombus yang mengandung kuman dan kemudian lepas dari endokard merupakan gambaran yang khas pada endokarditis infeksi. Besarnya emboli bermacam-macam. Emboli yang disebabkan jamur biasanya lebih besar, umumnya menyumbat pembuluh darah yang besar pula. Tromboemboli yang terinfeksi dapat teranggkut sampai di otak, limpa, ginjal, saluran cerna, jantung, anggota gerak, kulit, dan paru. Bila emboli menyangkut di ginjal. akan meyebabkan infark ginjal, glomerulonepritis. Bila emboli pada kulit akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri tekan.
2.4 Faktor predisposisi
Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
2.5 Faktor-Faktor Pencetus
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.
2.5 Gejala
Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya mulai timbul , misalnya sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih-lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, sakit sendi, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada ekstremitas (jari tangan dan kaki), dan sakit pada kulit.
• Gejala umum
Demam dapat berlangsung terus-menerus retermiten / intermiten atau tidak teratur sama sekali. Suhu 38 - 40 C terjadi pada sore dan malam hari, kadang disertai menggigil dan keringat banyak. Anemia ditemukan bila infeksi telah berlangsung lama. pada sebagian penderita ditemukan pembesaran hati dan limpha.
• Gejala Emboli dan Vaskuler
Ptekia timbul pada mukosa tenggorok, muka dan kulit (bagian dada). umumya sukar dibedakan dengan angioma. Ptekia di kulit akan berubah menjadi kecoklatan dan kemudian hilang, ada juga yang berlanjut sampai pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan (splinter hemorrhagic).
• Gejala Jantung
Tanda-tanda kelainan jantung penting sekali untuk menentukan adanya kelainan katub atau kelainan bawaan seperti stenosis mitral, insufficiency aorta, patent ductus arteriosus (PDA), ventricular septal defect (VCD), sub-aortic stenosis, prolap katub mitral. Sebagian besar endocarditis didahului oleh penyakit jantung, tanda-tanda yang ditemukan ialah sesak napas, takikardi, palpasi, sianosis, atau jari tabuh (clubbing of the finger). Perubahan murmur menolong sekali untuk menegakkan diagnosis, penyakit yang sudah berjalan menahun, perubahan murmur dapat disebabkan karena anemia . Gagal jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infeksi, dan lebih sering terjadi pada insufisiensi aorta dan insufisiensi mitral, jarang pada kelainan katub pulmonal dan trikuspid serta penyakit jantung bawaan non valvular.
2.6 Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
 Keluhan Utama
Pada fase awal, keluhan urtama biasanya sesak napas dan serig dan nyeri tenggorokan. Sesuai prgesivitas penyakit endokarditis yang mengganggu katup jantung, keluhan sesak napas dan kelemahan menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan.
 Riwayat Penyakit Saat Ini
Pengkajian riwayat kesehatan saat ini meliputi:
 Apakah terdapat penurunan respons imunologis terhadap infeksi seperti pada klien dengan HIV/AIDS.
 Apakah klien mengalami perubahan metabolisme akibat penuaan.
 Apakah klien pernah mendapat prosedur diagnostik invasif secara intravena.
 Apakah klien mendapat pengobatan yang bersifat imunosupresif.
 Apakah klien pernah mendapat pengobatan antibiotik jangka panjang.

 Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian riwayat penyakit dahulu yang mendukung dilakukan dengan mengkaji apakah sebelumnya klien pernah menderita infeksi sinus akut. Riwayat minum obat, catat adanya efek samping yang terjadi di masa lalu. Juga pengkajian adanya riwayat alergi obat, tanyakan reaksi alergi apa yang timbul. Perlu dicermati, sering kali klien mengacaukan suatu alergi dengan efek samping obat.
 Riwayat Keluarga
Perawat menanyakan mengenai penyakit yang pernah dialami oleh keluarga, serta bila ada anggota keluarga yang meninggal. Maka penyebab kematian juga ditanyakan.

 Pemeriksaan fisik
B1 (brathing)
Apabila gangguan sudah mengenai katup jantung biasanya klien terlihat sesak, frekuensi napas melebihi normal. Sesak napas ini terjadi akibat pengeluaran tenaga yang berlebihan dan disebabkan oleh kenaikan tekanan akhir diastolik dan ventrikel kiri yang meningkatkan tekanan vena pulmonalis. Hal ini terjadi karena kegagalan peningkatan curah darah ventrikel kiri pada waktu melakukan kegiatan fisik. Dispnea kardiak bila sudah parah dapat timbul pada saat istirahat. Klien biasanya mengalami batuk.
B2 (blood)
a. Inspeksi, dilakukan terhadap adanya parut. Keluhan lokasi nyeri biasanya berada di daerah substernal atau nyeri di atas perikardium. Penyebab dapat meluas di dada dan klien sering mengalami ketidakmampuan menggerakkan bahu dan tangan.
b. Palpasi, denyut nadi perifer melemah, panas tinggi (38,9-40ºC atau 101-104ºF).
c. Perkusi, batas jantung terjadi pergseran untuk kasus lanjut pembesaran jantung
d. Auskultasi, tekanan darah biasanya turun akibat penurunan volume sekuncup. Gejala sistemis yang terjadi akan sesuai dengan virulensi organisme yang menyerang. Bila ditemukan mur-mur pada seseorang yang mnderita infeksi sistemis, maka harus dicurigai adanya infeksi endokarditis. Perkembangan mur-mur yang progresif sesuai perkembangan waktu dapat terjadi dan menunjukkan adanya kerusakan katup akibat vegetasi atau perforasi katup atau chordae tendinae. Pembesaran jantung atau adanya bukti (tanda dan gejala) gagal jantung kongestif juga bisa terjadi.
B3 (brain)
Kesadaran biasanya compos mentis (CM), sakit tenggorokan, kemerahan pada tenggorokan disertai eksudat (awitan mendadak) dan nyeri pada sendi dan pungung. Sinusitis akut dan otitis media akut (mungkin karena sterptokokus) dapat pula terjadi. Manifestasi sistem saraf pusat mencakup sakit kepala, iskemia serebral transien atau sementara, dan stroke, yang mungkin dilakukan oleh emboli pada arteri serebral.
B4 (bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake caiaran. Perawat perlu memonitor adanya oliguria pada klien dengan infark miokardium akut (IMA) karena merupakan tanda awal syok kardiogenik.

B5 (bowel)
Klien biasanya mengeluh mual dan muntah, tidak adanya nafsu makan, berat badan turun. Pembesaran dan nyeri tekan kelenjar limfe dan nyeri abdomen (lebih sering pada anak).
B6 (bone)
Meliputi pengkajian terhadap aktivitas dengan gejala kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur, pola hidup menetap, dan jadwal olahraga tidak teratur. Tanda yang dapat dikenali adalah takikardi dan dispnea pada saat istirahat/aktivitas. Hiegine: kesulitan melakukan tugas perawatan diri.

2. Diagnosis
 Aktual/resiko nyeri yang berhubungan dengan penurunan suplai darah kearea miokardium akibat sekunder dari penurunan perfusi.
 Aktual / resiko tidak efektiy perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada endokarditis.
 Kurangnya pengetahuan (mengenai kondisi dan tindakan) yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan cara pencegahan terjadinya kompplikasi.

3. Intervensi
 Aktual/resiko nyeri yang berhubungan dengan penurunan suplai darah kearea miokardium akibat sekunder dari penurunan perfusi.
Tujuan :
Dalam waktu 3 X 24 jam terdapat penurunan respon nyeri dada.
Rencana tindakan :
Catat karateristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebaran nyeri.
Rasional :
Variasi penampilan dan perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
 Aktual / resiko tidak efektiy perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada endokarditis.
Tujuan :
Dalam wakatu 3 X 24 jam tidak terjadi gangguan perfusi perifer.
Rencana tindakan :
Evaluasi status mental, catat adanya hemiparalisis afasia, muntah, peningkatan tekanan darah.
Rasional :
Indikasi adanya emboli sistemik ke otak.
 Kurangnya pengetahuan (mengenai kondisi dan tindakan) yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan cara pencegahan terjadinya kompplikasi.
Tujuan :
Terpenuhinya pengetahuan klien tentang kondisi penyakit.
Rencana tindakan :
Menjelaskan efek emosi pada jantung secaraindividual. Berikan penjelasan mengenai gejala-gejala komplikasi dan tanda-tanda yang harus segera dilaporkan pada tugas kesehatan seperti demam, peningkatan nyeri dada yang luar bioasa, bertambahnya keterbatasan beraktivitas.
Rasional:
Untuk bertanggung jawab kepada kesehatan, klien membutuhkan pengertian tentang penyebab khusus, tindakan dan efek jangka panjang yang mungkin terjadi pada kondisi inflamasi, baik tanda dan gejala atau komplikasinya.

4. Implementasi
 Aktual/resiko nyeri yang berhubungan dengan penurunan suplai darah kearea miokardium akibat sekunder dari penurunan perfusi.
 Istirahat klien.
 Menejemen liongkiungan.
 Ajarkan klien teknik relaksasi distraksi pada saat nyeri.
 Lakukan menejemen lingkungan.

 Aktual / resiko tidak efektiy perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada endokarditis.
 Kaji nyeri dada, dispnea yang tiba-tiba ditandai dengan takipnea, nyeri pleuritis, sianosis.
 Observasi edema pada ekstermitas. Catat kecendrungan/lokasi nyeri, tanda-tanda Homan positif.
 Observasi adanya hematuria yang ditandai oleh nyeri pinggang dan oliguria.
 Catat keluhan nyeri perut kiri atas menjalar ke bahu, kelemahan lokal,abdominal ngiditas.
 Tingkatkan/pertahankan tirah baring sesuai dengan anjuran.
• Aktual / resiko tidak efektiy perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada endokarditis.
 Beritahukan klien atau orang terdekat mengenai dosis, aturan, dan efek pengobatan, diet yang dianjurkan, pembatasan aktivitas yang dapat dilakukan.
 Jelaskan tentang pentingnya pengobatan antibiotik atau anti mikroba jangka panjang.
 Diskusikan mengenai profilaksis penggunaan antibiotik.
 Identifikasi tindakan-tindakan untuk mencegah endokarditis seperti perawatan gigi yang baik.
 Tetapkan metode yang tepat untuk KB.
 Hindari pemakaian obat suntik perintravena sendiri.
 Meningkatkan cara hidup sehat seperti intake makanan yang baik, keseimbangan antara aktivitas dan istirahat, pantau kesehatan dan adanya infeksi.
 Patuhi imunisasi seperti vaksin influenza sesuai indikasi.
 Identifikasi sumber-sumber pendukung yang memungkinkan untuk mempertahankan kebutuhan akan perawatan dirumah.




5. Evaluasi
1. Secara subjektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri dada, secara objektif didapatkan tanda vital dalam batas normal, wajah rileks, tidak terjadi penurunan perfusi perifer, urin lebih dari 600 mililiter/hari.
2. Perfusi jaringan yang adekuat dapat dipertahankan sesuai dengan kebiasaan individu seperti kebiasaan makan, tanda vital yang pasti, kehangatan, keseimbangan intake dan output.
3. Mengungkapkan mengenai tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan dengan kemungkinan komplikasi dan mengenal perubahan gaya hidup dan perilaku untuk mencegah terjadinya komplikasi.
























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita.
Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas.
Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin.
Asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami endokarditis adalah pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi.

3.2 Saran

Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu mata kuliah “Keperawatan Kardiovaskuler II”. Selain itu diperlukan lebih banyak referensi dalam penyusunan makalah ini agar lebih baik.









DAFTAR PUSTAKA


Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta : Salemba Medika.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar